suka ga suka. sialan.
Friday, February 24th, 2006Ketika seseorang bisa bilang : SUKA atau TIDAK SUKA terhadap sesuatu, mereka harus melalui phase dimana orang tersebut bisa meneliti dan tau benar seluk beluk object itu. Karena ketika seseorang bisa bilang : SUKA atau TIDAK SUKA, mereka seharusnya bisa memberi alasan yg jelas KENAPA mereka SUKA atau TIDAK SUKA.
Penilaian terhadap sesuatu bisa diambil secara dalam maupun secara kasat mata. Kita ambil contoh penganalisaan SESEORANG secara dalam seperti ini : berkenalan, bertanya2, ngobrol panjang lebar, ngobrol ngalor ngidul, ngobrol ga jelas, ngobrol sambil bcanda banci, pengungkapan segala tetek bengek yg ga perlu, ini itu, banci joged, banci mulut comber, blaaahhhhhhh!! Suatu momen panjaaaaaang dimana orang bisa berinteraksi dalam jangka waktu yg cukup lama, yg bisa membuat bibir kesemutan saking semua yg diobrolkan (atau diobral??) dapat merangkum kehidupan seseorang dari bayi hingga skrg…
…sedangkan penganalisaan SESEORANG secara kasat mata contohnya ini : berkenalan (atau bisa jg tdk), ber-oooh panjang…dan ketika penganalisa tdk suka ia akan berpaling dan berkata, "HUH". Namun apabilan suka ia akan tersenyum manis dan melanjutkan obrolan (atau obralan??????).
Banyak hal dari makhluk ciptaan Allah yg katanya makhluk tersempurna di jagad raya ini yg masih membuat gw bertanya2. Hal2 moril yg seharusnya datang dr otak (paling tdk butuh kewarasan), yg cuma butuh nurani seringkali terabaikan…gw ngomong gini bukan berarti alpha dr itu semua, krn gw akui gw emang bukan orang yg waras………..
tp paling ga i dun say, "GW GA SUKA", kepada sesuatu yg bukan dalam kapasitas gw untuk menilai. Mungkin karena itu gw orangnya plin plan, ga bisa jd decision maker, cuman bisa ngasih pertimbangan…karena apa? karena di dunia ini ga ada yg absolut. Ah, ngomongnya jd ngalor ngidul…ok balik ke inti…ketika seseorang bs bilang SUKA atau TIDAK SUKA, IYA atau TIDAK, HE-EH ato OGAH, itu adalah ke-absolut-an. Ga pake mikir lg, mungkin bs jd suatu spontanitas banci!
…hummmmm…emosi membuat omongan kita melenceng, kawan…mari kita luruskan.
Intinya ya itu tadi. Penilaian terhadap sesuatu sehingga akhirnya orang bisa bilang SUKA atau TIDAK SUKA —-SEHARUSNYA—- menggunakan penganalisaan jangka panjang dan intensitas yg cukup dalam. Huhu, terkesan non-sense bukan??? Karena untuk apa melanjutkan perbincangan apabila TIDAK SUKA uda ada di otak?????????? Yah…mungkin emang itulah moril yg gw pertanyakan.
Setiap orang yg berpijak di tanah ini berhak menilai. Setiap orang yg bernafaskan udara ini berhak mengungkapkan rasa SUKA atau TIDAK SUKA. Tp sebuah pernyataan :
"Gw ga suka mantan2nya. Gw lebih suka elo", menuntut gw untuk bertanya…EMANG MANTAN2 GW PERNAH SALAH APA SAMA ENTE sampe ngebuat loe membuat pernyataan yg absolut. And for God’s sake, ga liat ke siapa loe ngomong, (sadar ga se? co gw???) Antara otak sama nurani, beratan mana?
Emang sepertinya yg manusia butuhin sekarang adalah KETIDAK PEDULIAN terhadap sesamanya. Paling tidak, apabila hak menilai masih exist (krn emang pada dasarnya manusia memiliki itu) KEEP IT TO URSELF. Suka ga suka, apa perlu dihumbar?