dia gila, sakit dan tdk waras. saya juga.

"Saya berencana untuk datang ke rumahmu, besok sampai minggu."

"Sampai minggu? Hari minggu lebih baik kamu berakhir pekan dengan keluargamu atau mungkin kita bisa bertemu malamnya setelah saya berolah raga. Paling tidak kamu bisa menghabiskan sedikit waktu dengan orang tua dan adikmu."

"Saya tdk ada kerjaan lain. Bagaimana kalau hr minggu kamu ikut saya dan keluarga? Saya ingin tiap hari bertemu…saya mohon…"

"Berhenti memohon. Saya rasa kamu gila, sakit dan tdk waras."

"Iya, saya akan ke rumah sakit jiwa sebentar lagi. Karena saya gila mungkin akan nyasar di tengah jalan."

"Wah itu seru."

"Kamu jahat."

"Biarin."

"Jahat."

"Biarin."

"Jahat. Jahat. Jahat."

"Biareeeennn."

"Huh. Jahat!"

"Biarin. Jahat begini toh saya sayang kamu."

"…"

Dan di sini saya membayangkanmu tersapu2. Selayaknya debu di rumahku yg tak peduli ketika sapu diarahkan padanya. Perlahan kudengar suara tawa ringan dari ujung sana. Renyah.

"Saya rasa kamu bukan hanya gila, sakit dan tdk waras…tapi juga ge-er."

"Biarin…hehe…"

"Ih ge-er."

"Biarin weee…"

"Ge-er. Ge-er. Ge-er."

"Biareeeen."

…kamu seharusnya berdiri di atas panggung. memainkan peranmu sebagai seorang pangeran yg mencinta. dan aku akan duduk disini memerhatimu dengan setia. lalu berharap lakonanmu tidak pernah usai. karena hampir tiba waktunya aku berdiri mengapresiasi karyamu. bertepuk tangan. tersenyum bangga. naik ke atas panggung. jatuh dlm pelukanmu. dan melakoni langkah kita.

ah, saya tau knp kamu mencintai saya. krn saya pintar berkata gombal ;)

Leave a Reply