dia gila, sakit dan tdk waras…juga JAYUS.

Ada relasi yg kuat antar sebuah humor dan tawa. Dimana ketika sebuah humor dilontarkan, badan kita akan melakukan gerakan sensorikan, mengirimkan sinyal ke otak bahwa sesuatu yg telah dilontarkan itu adalah lucu; tertawalah, maka badan kita melanjutkan pergerakan motorik yg menstimulasi tubuh kita untuk melakukan hal2 ini :

- nyengir atau tersenyum apabila humor itu lumayan lucu,
- tertawa apabila humor itu memang lucu,
- terbahak2 apabila humor itu teramat sangat lucu,
- terpingkal sampai muntah darah apabila itu adalah humor terlucu sepanjang masa.

Akan tetapi, humor bisa juga terbagi menjadi 2. Humor yg memang lucu atau humor yg memaksa untuk lucu. Jenis ke-2 lebih sering dikenal oleh masyarakat awam Indonesia, ABG pada umumnya, dengan istilah JAYUS.

Nah…keJAYUSan ada relasi yg kuat dengan seorang Pandya Dhaneswara ketika ia mencoba dengan sepenuh hati hingga peluh membasahi hati, jiwa dan raga…untuk membuat gw tertawa (terpingkal dengan suara yg berbeda, katanya). Baginya, membuat orang lain tertawa hanya perlu jentikan jari (apabila ia bisa menjentikan jari, tentu saja). Dengan humor2 iseng andalan, orang yg mendengar akan dengan mudah melakukan gerakan sensorik dan motorik tadi.

Namun humormu bagiku adalah JAYUS. Analogi yg tepat apabila kamu bersanding di sisi Yenny Djayusman untuk mempunyai nama belakang : DJAYUS-MAN…?? Humm…Pandya The Djayus-man?? Saya rasa itu nama yg cukup bagus kalau kamu menjadi super hero di tv. Super hero dalam urusan membuat orang tertawa (bukan saya). Ah, tentu saja saya tidak akan membuat itu terlalu mudah bagimu. hehehe…

Tapi semalam saya cukup salut padamu. Kamu yg sedang senang karena BCA Cardmu sudah ditangan. Kamu yg dengan senyum penuh arti berkata, "Saya pingin langsung coba, starbucks hari ini on me, bagaimana??". Mungkin kamu yg sedang senang beginilah yg bisa memurnikan sebuah keJAYUSan menjadi sebuah humor sungguhan untukku. Seperti dialog kita semalam :

"Sayang sekali kartu ini tidak bisa saya pakai untuk makan di warteg!"
"Ha? Kamu ingin ke warteg malam ini?"
"Bukan, maksud saya kalau di kampus kan saya makannya di warteg, dan saat ini saya sedang bokek…andaikan saja di warteg ada tempat gesek, jadi tidak perlu keluar uang."
"Ooo…*membayangkan warteg seperti deretan restoran di Restaurant Row PIM2* haha iya yaa, coba di warteg bisa pake kartu kredit! ‘Nih Mas Rp.7.000 ya? Saya bayar pake kartu ya!’"
"Oooo…mungkin bisa pake kartu!! Geseknya di ketek!!"
"BUAHAAHAUHAUHAUHAUHAHAHAHAUHUAUAHUHWUAHUWHAUH UAWHUAHWU HAUH UHWUAHWUAHU HUWAHWUAHUHW UAHU HUAHWU HUAHUWHAU HUAHU HAUWHUAHWUHAUHW UAH UHWAUHWUAHUHWUAHWUAHUWAU"

Untuk pertama kalinya keJAYUSanmu berhasil membuatku terpingkal. Padahal saya masih teramat sangat yakin pada jawabanmu yg JAYUS, adanya. Itu bukan humor. Itu JAYUS. Jayusmu kali ini membuatku tertawa…hebat!

Saya berdiri lagi dr bangku ini, menepukkan kedua tangan saya.

Leave a Reply